Selasa, 06 Agustus 2019

Menelpon Mama


Pict : Unsplash.com

Mama tidak pernah menelponku. Alih-alih mengadu kasih sayang, bertanya kabarpun kami tak pernah saling menyempatkan. Sebuah panggilan telepon seperti sebuah harga mahal yang tak pernah sudi kami bayar. Mungkin mama sibuk, batinku. Dan atau mungkin itu aku yang begitu sibuk.
Aku begitu buruk dalam urusan mengangkat telepon. Tapi sejauh yang kulihat, aku tak pernah melewatkan telepon mama. Mungkin karena mama tak pernah menelpon. Apakah ia pernah mau menelpon? Aku tak tahu.
Mama sering menelpon ketika aku masih duduk di bangku sekolah dulu. Dan karena aku orang yang buruk dalam urusan mengangkat telpon, banyak panggilannya yang tak sempat kujawab.
Semenjak berkuliah, Aku lebih sering lebaran di kota. Tidak pulang. Mungkin karena mama tak menelpon. Dan aku juga tak berniat untuk menekan nomor mama di telepon. Malam takbiran pun begitu, Kami tidak menelpon. Aku tidak menyimpan nomornya, tapi toh aku hafal. Hubungan kami tidak renggang, malah sebaliknya, kami begitu sangat menyayangi. Hanya saja kami tidak menelpon.
Tapi malam ini, aku sangat ingin ditelepon. Ditelepon mama. Hidup rasanya makin susah saja, makin rumit. Aku tahu, sedikit telepon akan meredakan kegamangan hatiku. Rasanya, hampir 4 tahun kami tak mendekatkan gawai di telinga masing-masing hanya untuk mendengar suara di seberang yang sama-sama kami rindukan.
Aku menatapi layar gawai dengan pandangan kosong. Aku tak pernah terpikir menunggu telepon akan semembosankan ini. Sesekali gawai ku berbunyi. Tapi bukan dari nomor yang kunanti, panggilan itu kubiarkan mati sendiri. Aku memang tak pernah berniat untuk menekan nomor mama di layar. Itu seharusnya mama yang melakukan. Menelepon nomorku, menanyakan kabarku , makan malam ku apa, atau kuliah ku bagaimana. 
Aku mampu menulis banyak cerita, dan banyak puisi di gawai ini. Tapi menekan tombol panggilan untuk mama saja aku lemah.
Aku memandang foto mama di layar.
"Tidak ada telepon,
Tidak akan pernah ada telepon."
Aku menghabiskan banyak waktu dalam hidupku untuk melakukan hal yang sia-sia, salah satunya dengan menunggu telepon mama. Banyak hal yang entah kenapa kita suka berpura-pura atasnya. Pura-pura senang, pura-pura tersenyum, pura-pura mengetik pesan, bahkan pura-pura menanti telepon.
Wajah yang tersenyum di gawaiku masih sama seperti ketika terakhir kali aku melihatnya.
"Tidak ada telepon,
Tidak akan pernah ada telepon."
Share:

0 komentar:

Posting Komentar