![]() |
| Pict : Unsplash.com |
Mama tidak pernah menelponku. Alih-alih
mengadu kasih sayang, bertanya kabarpun kami tak pernah saling menyempatkan.
Sebuah panggilan telepon seperti sebuah harga mahal yang tak pernah sudi kami
bayar. Mungkin mama sibuk, batinku. Dan atau mungkin itu aku yang begitu sibuk.
Aku begitu buruk dalam urusan mengangkat
telepon. Tapi sejauh yang kulihat, aku tak pernah melewatkan telepon mama.
Mungkin karena mama tak pernah menelpon. Apakah ia pernah mau menelpon? Aku tak
tahu.
Mama sering menelpon ketika aku masih
duduk di bangku sekolah dulu. Dan karena aku orang yang buruk dalam urusan
mengangkat telpon, banyak panggilannya yang tak sempat kujawab.
Semenjak berkuliah, Aku lebih sering
lebaran di kota. Tidak pulang. Mungkin karena mama tak menelpon. Dan aku juga
tak berniat untuk menekan nomor mama di telepon. Malam takbiran pun begitu,
Kami tidak menelpon. Aku tidak menyimpan nomornya, tapi toh aku hafal. Hubungan
kami tidak renggang, malah sebaliknya, kami begitu sangat menyayangi. Hanya
saja kami tidak menelpon.
Tapi malam ini, aku sangat ingin
ditelepon. Ditelepon mama. Hidup rasanya makin susah saja, makin rumit. Aku
tahu, sedikit telepon akan meredakan kegamangan hatiku. Rasanya, hampir 4 tahun
kami tak mendekatkan gawai di telinga masing-masing hanya untuk mendengar suara
di seberang yang sama-sama kami rindukan.
Aku menatapi layar gawai dengan
pandangan kosong. Aku tak pernah terpikir menunggu telepon akan semembosankan
ini. Sesekali gawai ku berbunyi. Tapi bukan dari nomor yang kunanti, panggilan
itu kubiarkan mati sendiri. Aku memang tak pernah berniat untuk menekan nomor
mama di layar. Itu seharusnya mama yang melakukan. Menelepon nomorku,
menanyakan kabarku , makan malam ku apa, atau kuliah ku bagaimana.
Aku mampu menulis banyak cerita, dan
banyak puisi di gawai ini. Tapi menekan tombol panggilan untuk mama saja aku
lemah.
Aku memandang foto mama di layar.
"Tidak ada telepon,
Tidak akan pernah ada telepon."
Aku menghabiskan banyak waktu dalam
hidupku untuk melakukan hal yang sia-sia, salah satunya dengan menunggu telepon
mama. Banyak hal yang entah kenapa kita suka berpura-pura atasnya. Pura-pura
senang, pura-pura tersenyum, pura-pura mengetik pesan, bahkan pura-pura menanti
telepon.
Wajah yang tersenyum di gawaiku masih
sama seperti ketika terakhir kali aku melihatnya.
"Tidak ada telepon,
Tidak akan pernah ada telepon."

0 komentar:
Posting Komentar